4 Aplikasi Ramadhan Pilihan untuk Pengguna BlackBerry

Bulan Suci Ramadhan selalu menjadi momentum tepat untuk meningkatkan ibadah, terutama bagi Anda yang beragama Islam. Kemajuan teknologi pun tentu juga bermanfaat untuk mempermudah Anda meningkatkan ibadah. Beragam aplikasi BlackBerry kembali hadir untuk mendukung ibadah Ramadhan Anda.

Berikut rekomendasi 4 aplikasi pilihan yang dapat Anda unduh langsung secara gratis di BlackBerry Anda:

1. Islamic Pocket Guide

Setelah sukses dengan aplikasi Ramadhan Pocket Guide di tahun lalu yang konon menjaring lebih dari 100.000 pengguna, Veelabs kini kembali meluncurkan sebuah aplikasi yang tak kalah menariknya, yakni Islamic Pocket Guide (IPG). Aplikasi ini menyediakan fitur baru yang menarik dan canggih, seperti Reminder dan Jadwal Sholat selama 5 kali sehari, Panduan Arah Kiblat, Suara Adzan Lengkap, dan memiliki desain yang unik serta elegan.

Fitur-fitur:

    • Aplikasi berbahasa Indonesia
    • Design interface yang eksklusif dan elegan
    • Sangat user friendly, mudah digunakan
    • Suara Adzan lengkap
    • Panduan suara sebagai pengingat jadwal Sholat
    • Arah Kiblat dengan deteksi lokasi cepat & akurat dengan teknologi LBS dan GPS
    • Pengaturan jadwal Sholat yang disesuaikan secara manual sesuai dengan lokasi Anda
    • Penghitung waktu mundur (countdown timer) untuk setiap jadwal Sholat
    • Notifikasi alert menggunakan Ribbon, Icon, suara Adzan, dan fitur getar
    • Sharing/ berbagi tulisan dengan sesama pengguna aplikasi IPG
    • Akses dan loading menu yang cepat
    • Berbagi informasi mengenai aplikasi ini langsung melalui eMail, Facebook dan Twitter
    • Aplikasi berukuran kompak dan ringan, hemat memori dan baterai

Islamic Pocket Guide ini dapat Anda download disini atau langsung melalui aplikasi Appworld di BlackBerry Anda.

2. Quran for BlackBerry

Quran for BlackBerry ini sebenarnya aplikasi yang sudah cukup lama beredar tetapi tetap digemari hingga sekarang. “Aplikasi ini termasuk aplikasi yang paling banyak pendownloadnya,” ujar Titi Rusdi CEO dari 7Langit Apps sebagai perusahaan developer aplikasi untuk BlackBerry yang membuat aplikasi Quran for BlackBerry.

Fitur dari aplikasi Quran for BlackBerry ini adalah:

    • Online Quran untuk BlackBerry. (verified Quran text Tanzil Project 1.0.2)
    • Berukuran kurang dari 100kB.
    • Menampilkan Arabic serta terjemah Bahasa Indonesia. (versi Departement Agama RI – qurandatabase)
    • Tampilan terjemah secara opsional dapat dihilangkan.
    • Tanpa perlu install Font Arabic.
    • Navigasi dengan fasiltas Go to Surat dan Ayat.
    • Menyimpan dan menampilkan Bookmark Surat dan Ayat.
    • Membutuhkan BlackBerry Service (BIS/BES).
    • Tanpa ekstra setting APN/TCP.

Aplikasi ini dapat langsung diunduh disini atau melalui Appworld langsung di BB Anda.

3. Moslem Guide

Aplikasi besutan dari PT. Juara Persada Nusantara ini hanya dikhususkan bagi pengguna layanan dari Indosat saja. Di dalamnya terdapat berbagai macam fitur yang berguna bagi Anda untuk disimak sebagai pengetahuan tambahan mengenai Islam, seperti panduan halal lengkap dengan fatwa MUI, juga terjemahan dari Bahasa Indonesia ke bahasa Arab.

Fitur-fitur aplikasi Moslem Guide:

    • Translator dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab
    • Ringtone Islami
    • Themes Islami
    • Jadwal Shalat
    • Pencarian Masjid terdekat
    • Halal Guide
    • Pencarian Arah Kiblat
    • Fatwa MUI
    • Al Qur’an Digital
    • Berita umat
    • Renungan harian

Bagi para pengguna Indosat, silakan dapat langsung men-download aplikasi ini secara gratis disini atau melalui Appworld langsung di BB Anda.

4. Teman Ibadah

Bekerjasama dengan Alifmagz.com, aplikasi Teman Ibadah menyediakan informasi menarik seperti Quote of the Day, kisah menarik agamis (Hikayat), panduan Doa Harian, Kisah Harian, Qur’an & Answer dan Islam in the World. Aplikasi besutan 7Langit ini juga menyediakan informasi mengenai Masjid atau musholla terdekat. Terdapat listing 15.000 masjid dan musholla yang ada di seluruh Indonesia.

Fitur lainnya dari aplikasi Teman Ibadah:

    • Quote of the Day, kisah menarik agamis (Hikayat), panduan Doa Harian, Kisah Harian, Qur’an & Answer dan Islam in the World
    • Informasi mengenai Masjid atau musholla terdekat. Listing15.000 masjid & musholla yang ada di seluruh Indonesia
    • Informasi Mudik secara cepat dan tepat
    • BlackBerry Themes yang menarik
    • Jadwal agenda kegiatan keagamaan yang langsung dapat di save di kalender BlackBerry? Anda
    • Digital Wirid: Anda dapat menghitung dengan mudah ibadah wirid anda, hanya dengan menekan track ball atau track pad BlackBerry Anda.
    • Jadwal Imsakiyah yang dikeluarkan oleh Kementrian Agama Indonesia
    • Informasi Jadwal Sholat yang tepat setiap harinya untuk berbagai kota di Indonesia
    • dan lain sebagainya

Aplikasi menarik ini dapat Anda unduh disini atau langsung dari genggaman Anda melalui aplikasi Appworld pada smartphone BlackBerry

Original post on : yang canggih

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Aktifitas Yang Harus Dilakukan Dengan Posisi Tubuh Yang Benar

Banyak orang yang menderita sakit punggung dan
leher, serta postur tubuh membungkuk karena salah
posisi dalam melakukan berbagai aktivitas. Bagaimana
posisi tubuh yang benar ketika nonton TV, tidur atau
menyetir agar tubuh tidak bungkuk? Ini panduan untuk
Anda, seperti dikutip dari Times of India.

1. Saat Tidur
Terlalu banyak bantal yang menopang kepala saat
tidur, atau tidur di atas tempat yang terlalu empuk bisa
membuat sakit punggung dan postur jadi bungkuk.
Saat tidur, kepala harus tertopang dengan baik tapi
tetap sejajar dengan tulang belakang. Untuk itu cukup
gunakan satu bantal saja. Pilihlah bantal berkualitas
(tidak terlalu lembut atau keras) dan sebaiknya ganti
tiap satu tahun sekali. Posisi tidur ideal adalah
celentang atau menyamping. Hindari tidur sambil
tengkurap dan meringkuk.

2. Saat Bersin
Bersin umumnya gejala yang menyertai flu dan pilek.
Perlu diketahui, bersin adalah salah satu penyebab
paling umum sakit punggung. Saat bersin, tubuh akan
terkena guncangan secara tiba-tiba dan itu bisa
menyebabkan sakit pada punggung serta leher. Saat
merasa akan bersin, sebaiknya tekuk lutut untuk
mencegah tekanan atau guncangan ketika bersin
mengenai tulang belakang.

3. Saat Pakai Sepatu
Sepatu bertumit tinggi atau high heels memang bisa
membuat postur tubuh terlihat lebih tegak. Tapi hanya
saat dikenakan. High heels justru memaksa ujung kaki
untuk menopang semua beban tubuh ketika dipakai.
Selain itu juga menekan tulang panggul dan punggung
bagian bawah. Hindari memakai high heels terlalu
sering. Apabila diharuskan pakai sepatu hak tinggi
setiap hari, tambahkan bantalan sol di bagian dalam
sepatu untuk mengurangi tekanan.

4. Saat Nonton TV
Kebanyakan orang lebih suka duduk bersandar atau
mengangkat kaki ketika nonton TV, apalagi jika duduk
di atas sofa empuk dan nyaman. Kebiasaan ini tentu
kurang baik karena punggung akan mengalami tekanan
dan lama kelamaan membuatnya jadi bungkuk.
Sebaiknya duduk di kursi makan atau kursi dari kayu
sehingga posisi pinggul Anda lebih tinggi dari lutut.
Posisi ini akan membuat punggung terbiasa untuk
tegap.

5. Di Meja Kerja
Duduk di belakang meja kerja sambil mengetik di
komputer dengan punggung yang membungkuk ternyata
menyebabkan lebih banyak masalah pada punggung
ketimbang mengangkat atau membawa barang berat.
Posisikan komputer tepat di depan Anda dan atur
setelan kursi sejajar dengan komputer. Pertahankan
posisi tubuh tegap ketika bekerja.

6. Saat Menelepon
Ketika berbicara lewat telepon di kantor, berdirilah dan
tegakkan tubuh Anda. Menerima/membuat panggilan
telepon sambil duduk akan membuat tubuh cenderung
membungkuk. Dalam jangka panjang, leher serta bahu
bisa kaku.

7. Saat Menyetir
Pastikan sandaran kepala di posisi yang tepat. Tidak
terlalu ke belakang atau ke depan. Atur kaca spion
tengah dan samping kiri-kanan dalam posisi yang
membuat tubuh Anda harus tetap tegak di kursi saat
melihatnya. Saat mobil berhenti karena macet atau
lampu merah, atur perut Anda ke arah dalam. Posisi
ini akan melindungi punggung dari sakit dan bungkuk.

Original Post at : JuruKunci

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

UPACARA NYADRAN ANTARA PRO DAN KONTRA

Oleh : Umar Ali Tofan dan Haqi Hudanallah (Murid SMA Rifa’iyah Rowosari Kendal)

PENDAHULUAN

<A. Latar Belakang

Kebudayaan merupakan elemen yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Di satu sisi, manusia mencipta budaya, namun di sisi lain, manusia merupakan produk dari budaya tempat dia hidup Hubungan saling pengaruh ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa budaya, betapapun primitifnya. Kehidupan berbudaya merupakan ciri khas manusia dan akan terus hidup melintasi alur zaman. Sebagai warisan nenek moyang, kebudayaan membentuk kebiasaan hidup sehari-hari yang diwariskan turun-temurun. Ia tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia dan hampir selalu mengalami proses penciptaan kembali.

Di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini, kehidupan manusia pun semakin beragam. Seiring dengan itu, budaya terus-menerus mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir dan cara bertindak manusia dalam kehidupannya. Perkembangan
budaya ada yang berlangsung cepat (revolusi kebudayaan) dan ada pula yang berkembang perlahan (evolusi kebudayaan). Perkembangan budaya jenis yang kedua ini atau yang bersifat evolutif hampir tidak bisa dirasakan gerak pertumbuhannya sebab berlangsung lama. Ia seakan-akan hadir dan membekas dalam diri manusia tanpa dirasakan oleh yang bersangkutan, baik secara individu (person) maupun kelompok (kolektif).Meski demikian, satu kenyataan yang pasti adalah kebudayaan terus dan akan menggiring atau digiring oleh manusia menuju tingkat peradaban yang lebih maju.

Di Indonesia ada beragam kebudayaan, salah satunya adalah upacara nyadran. Nyadran menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat Jawa setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Upacara ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan bisa juga menjadi bentuk syukuran massal. Di wilayah Jawa pedalaman, nyadran lazim digelar di pemakaman menjelang bulan puasa (Syaban), sedangkan di Jawa
pesisiran dilakukan di pantai pad Jumadil Awal (tahun 2009 jatuh pada April). Acara ini menciptakan ciri khas kebudayaan pesisir pantai dan mempunyai daya tarik tertentu yang masyur di masyarakat.

Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian lapangan tentang upacara nyadran di pantai utara Jawa Tengah, tepatnya di di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.

B.Permasalahan

Makalah ini mengangkat dua permasalahan utama, yaitu (1) bagaimana bentuk upacara nyadran di Desa Gempolsewu dan (2)mengapa tradisi rakyat yang telah dipraktikkan sejak dulu kala itu menimbulkan kontroversi.

C. Ruang Lingkup

Penelitian ini mengambil tempat di Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Apa yang menarik bagi penulis adalah pesta laut atau nyadran di Desa Gempolsewu terkenal
sebagai yang termeriah di sepanjang pantai utara Jawa. Perayaan itu sendiri bahkan berlangsung lebih dari seminggu dan menyedot perhatian sampai ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Meski demikian, ada kontroversi seputar perayaan itu yang hingga kini masih mengemuka. Padahal di hampir seluruh masyarakat pantai utara, tradisi nyadran tidak menimbulkan kontroversi semacam itu. Makalah ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan tentang ritual nyadran yang digelar pada 10-17 April 2009.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apa itu nyadran dan sejauh mana masyarakat menghayati nilai yang terkandung dari suatu tradisi kebudayaan nenek moyang. Selain itu, ingin mengetahui bagaimana pandangan dari dua kalangan keagamaan (Muhammadiyah dan NU) di Desa Gempolsewu dalam menyikapi pesta nyadran. Ini penting bagi penulis karena pengetahuan tentang kebudayaan bisa
menjadi bahan pengkajian dalam kapasitas penulis sebagai seorang santri yang akan terjun ke masyarakat.

E. Metode Penelitian

Selama penelitian, penulis menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan data-data yang bersifat kualitatif. Kendati begitu, untuk pembahasan tertentu, penulis tetap memasukan data-data kuantitatif yang didapat dari narasumber sebagai pelengkap narasi. Ada beberapa alasan mengapa penulis menerapkan metode tersebut. Pertama, penulis mendapat gambaran berdasarkan perspektif masyarakat setempat tentang upacara nyadran. Kedua, dengan wawancara, penulis
dapat mengetahui akar masalah yang menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat Desa Gempolsewu langsung dari “tangan pertama”.Dengan dua manfaat itu, dua permasalahan yang diangkat dalam makalah ini dapat terpecahkan.

F. Hipotesis

Dalam penelitian ini, penulis mengangkat hipotesis yaitu: meski merupakan tradisi yang telah berlangsung lama, upacara nyadran tetap menjadi kontroversi di kalangan masyarakat dan kelompok keagamaan.

Dikalangan muslim modernis setempat, upacara tersebut dipandang bertentangan dengan ajaran Islam, sementara bagi kelompok muslim tradisionalis nyadran bisa dipakai sebagai alat syiar Islam sehingga perlu dilestarikan.

HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN

Nyadran atau pesta laut merupakan kebudayaan warisan nenek moyang di kawasan pesisir pantai utara Jawa. Sayang sekali, semua narasumber yang menjadi informan dalam penelitian tidak tahu secara pasti kapan nyadran pertama kali dilaksanakan di Desa Gempolsewu.
Apa yang penulis ketahui adalah bahwa ritual ini telah menjadi hajatan tahunan masyarakat setempat. Meskipun demikian, penulis berpendapat bahwa pesta laut ini merupakan tradisi dari Jaman
pra-Islam, yaitu ketika Jawa masih berada di Jaman Hindu-Buddha (Majapahit) atau bahkan sebelum itu (Mataram Kuno).

Argumentasinya adalah banyak unsur-unsur dalam upacara nyadran yang penulis amati ternyata berbau animisme dan Hindu, seperti pemberian aneka sesaji yang dihanyutkan ke laut demi mengharapkan
keselamatan dan limpahan rejeki (hasil laut). Namun dalam upacara nyadran juga terdapat unsur Islam.

Doa-doa dalam ritual inti sudah memakai Bahasa Arab, meski dicampur dengan Bahasa Jawa. Bahkan perayaan itu dimeriahkan dengan pengajian yang menghadirkan, baik ulama setempat maupun ulama dari luar daerah. Adanya unsur Islami dalam pesta rakyat ini kemungkinan besar merupakan pengaruh Islamisasi menjelang berdirinya Kerajaan Demak pada abad ke-15 M. Gabungan antara tradisi animisme, Hindu, dan Islam merupakan ciri khas dari budaya Jawa.

Walisongo dan penyebar-penyebar Islam awal memiliki peran besar dalam menyelaraskan ketiga tradisi yang berbeda itu. Desa Gempolsewu, atau lebih dikenal dengan sebutan Tawang , yang menjadi tempat penelitian merupakan sebuah desa yang langsung berbatasan dengan pantai diwilayah utara Kabupaten Kendal. Desa ini berpenduduk lebih dari 15.000 jiwa dan termasuk desa terpadat di
wilayah Kabupaten Kendal. Desa ini merupakan desa heterogen dalam komposisi masyarakatnya. Dari segi ekonomi, warga Desa Gempolsewu berprofesi sebagai nelayan, petani, pegawai negeri, dan buruh atau pegawai swasta. Dari segi keagamaan, hampir semua
memeluk Islam dengan afiliasi yang berbeda, yaitu Muhammadiah (minoritas) dan Nahdhatul Ulama atau NU (mayoritas). Dilihat dari segi afilisasi politik, komposisi mereka jauh lebih beragam. Pada pemilu legislatif 2009, sebagian besar partai peserta pemilu mendapat suara di desa ini.

Bagi masyarakat nelayan Desa Gempolsewu, upacara nyadran merupakan tradisi leluhur yang harus dilestarikan, betapun ada pihak-pihak yang menginginkan untuk dihilangkan. Bagi mereka, nyadran dianggap sebagai bentuk tasyakuran atau ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, alam, dan penunggu laut atas limpahan rejeki yang mereka terima.Penulis mengamati bahwa pesta laut itu sendiri lebih
dari sekedar tradisi syukuran, melainkan sudah menjadi semacam perayaan pesta desa. Ada bazaar atau pasar malam dan seni-seni pertunjukan khusus didatangkan dari sejumlah wilayah Jawa Tengah, seperti wayang kulit dan orkes musik Tidak mengherankan jika setiap kali diadakan, nyadran mampu menyedot perhatian masyarakat dari luar Desa Gempolsewu, bahkan orang-orang dari luar Kendal datang berduyun-duyun menyaksikan gelaran pesta laut itu.

Bagi masyarakat nelayan setempat, perayaan nyadran sangat penting. Di samping melestarikan budaya warisan leluhur, mereka juga yakin dengan mengadakan ritual tahunan ini keselamatan dan rejeki mereka di laut akan terjamin. Jadi, acara ini mereka lakukan sebagai
bentuk syukuran bersama dan sekaligus sarana meminta perlindungan supaya mereka tetap berada dalam kondisi slamet. Nyadran dihelat dengan tata upacara tertentu sebagai syarat wajib atau inti ritual, sedangkan seni-seni pertunjukan yang ada didalamnya hanya merupakan penambahan yang disesuaikan dengan perkembangan jaman.

A. Upacara Nyadran

Dalam tradisi nyadran, syukuran yang dilengkapi dengan doa dan mantra adalah merupakan ritual inti. Ini dilakukan sebagai timbal balik mereka atas rejeki yang mereka peroleh selama ini dan harapan atas rejeki yang akan datang. Acara ritual dilaksanakan pada hari
terakhir perayaan pesta laut yaitu pada Jum’at Kliwon, 17 April 2009. Mereka bersama-sama menuju ke laut untuk melaksanakan acara ritual tahunan itu. Sebagian besar dari mereka adalah para nelayan setempat. Seluruh prosesi acara sudah terjadwal dengan rapi oleh panitia penyelenggara. Warga masyarakat yang ingin memeriahkan upacara menaiki ratusan perahu yang telah disediakan.

Sekitar pukul 9 pagi mereka berangkat ke lepas pantai dengan membawa potongan kepala sapi yang telah mereka persiapkan dengan segala macam bentuk sesaji dan hiasan yang telah dirangkai sedemikian rupa. Semuanya dihanyutkan ke laut lepas. Setelah mereka sampai dilaut, mereka memulai acara tersebut. Diawali dengan doa sebagai washilah , mereka pun melarung’ kepala sapi beserta sesaji yang telah dipersiapkan ke laut. Prosesi pelarungan diakhiri
dengan do’a penutup yang intinya adalah harapan agar semua warga memperoleh keberkahan dan rejeki di hari yang akan datang. Semua itu atas dasar rasa terima kasih mereka kepada Tuhan. Bagi penulis, ungkapan rasa syukur itu bukan hanya kepada Tuhan, melainkan kepada alam dan penunggu laut. Ini tampak jelas dari doa yang dipanjatkan dengan Bahasa Arab, Jawa dan pemberian sesaji.

Menurut para nelayan, dengan upacara nyadran mereka yakin akan mendapatkan keselamatan saat mencari nafkah di laut. Meski tampak singkat, namun penulis mendapat banyak nilai yang terkandung dalam ritual inti nyadran, selain apa yang telah disinggung di muka.
Pertama, hadirnya tokoh desa, ulama, juru kunci , para pedagang, nelayan, calon-calon legislatif, dan pejabat pemerintahan setempat menjadi tanda bahwa nyadran merupakan sarana harmonisasi. Artinya, sebuah tradisi yang bukan hanya mendamaikan antara kehidupan
jasmani dan rohani, antara dunia manusia dan dunia roh, melainkan menjadi penyelaras kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan agama tingkat lokal. Semua menyatu dalam sebuah upacara dengan damai.

Namun penulis juga melihat adanya ”udang dibalik batu”. Bagi para calon legislatif, nyadran bisa digunakan sebagai kampanye untuk maju dalam pemilihan legislatif 2009. Bagi pejabat pemerintahan, nyadran dapat menjadi alat untuk menebar citra dihadapan rakyat. Bagi para pedagang, nyadran merupakan ajang mengais rejeki tahunan. Bagi kebanyakan warga desa, nyadran merupakan acara hiburan sebab mereka bisa menikmati berbagai macam seni pertunjukan, seperti wayang kulit, wayang golek, kethoprak, barongan, layar tancap, dan karnaval; festival-festival, seperti festival musik remaja, dan drum
band; lomba-lomba seperti lomba dayung perahu, bola volley, sepak bola, dan sayembara-sayembara; dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi, nyadran di Desa Gempolsewu menjadi alat promosi wisata untuk Pantai Sikucing yang merupakan salah satu penarik devisa andalan pemerintah Kabupaten Kendal.

B. Kontroversi

Selama penelitian, penulis menggali informasi tentang apa yang menjadi latar belakang munculnya pro dan kontra mengenai nyadran di Desa Gempolsewu dan kalangan mana yang terlibat kontroversi. Dari wawancara, penulis berhasil mendapatkan benang merahnya. Akar dari kontroversi itu sebenarnya berawal dari campurnya unsur animisme, hindu, dan Islam dalam ritual inti nyadran dan kemudian melebar ke rangkaian-rangkaian acara yang digelar selama seminggu untuk memeriahkan upacara itu. Kalangan muslim modernis(Muhammadiyah) menolak digelarnya upacara nyadran dan perayaan-perayaan yang menyertainya, sedangkan kalangan muslim tradisionalis
(NU) mendukung.

Bagi mereka yang kontra, nyadran dianggap sebagai pesta hura-hura yang mengambur-hamburkan uang karena dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan yang sering tidak ada hubunganya dengan pesan dari ritual nyadran itu sendiri sebagai syukuran. Acara-acara yang seringkali digelar hingga larut malam pun mengundang tanggapan negatif, sebab mereka dianggap memancing kegiatan asusila (seks bebas dan mabuk-mabukan), kriminalitas (pencopetan dan pencurian), dan kekerasan (perkelahian atau tawuran).

Para pemuda Muhammadiyah khususnya memperdebatkan pesta laut itu. Bahkan pernah beberapa kali terlontar himbauan supaya tradisi nyadran dihapuskan. Akan tetapi, para nelayan khususnya tidak menghiraukan larangan yang sifatnya internal itu. Bagi mereka, upacara nyadran merupakan bentuk kebudayaan warisan nenek moyang tidak mudah begitu saja dilarang. Para nelayan menganggap acara nyadran merupakan ritual wajib yang harus dilakukan. Menurut Bapak Ruslan, dalam pelaksanaan nyadran sebagian dari nelayan mengatakan bahwa acara tersebut adalah sumber dari kelancaran rezeki dalam mencari nafkah di laut lepas. Kalangan nelayan jelas sangat meyakininya karena bagi mereka, ada alasan dan tujuan tertentu yang bernuasa spiritual seperti ritual-ritual keagamaan lain.

Menurut sebagian warga desa, pesta laut memberi kemafaatan secara materi maupun rohani. Dengan digelar upacara nyadran, para pedagang mendapatkan rejeki dan penikmat seni pertunjukan memperoleh hiburan yang ditawarkan dari festival-festival yang dilakukan selama seminggu sebelum inti ritual nyadran dilaksanakan.

Namun pihak yang menentang menyatakan bahwa dampak buruk (mudharat) yang ditimbulkan adalah lebih besar dari kemanfaatannya
(mashalahat) sebab penuh takhayul, bid’ah’ dan syirik’ .

Karena kontroversi itu terjadi kesenjangan sosial dalam kehidupan sehari-hari antara para nelayan dan sebagian kalangan masyarakat di Desa Gempolsewu yang tidak menyukai acara tersebut. Jika kalangan muslim modernis (Muhammadiyah) tegas menolak tradisi itu, lain halnya dengan kalangan muslim tradisionalis (NU). NU tidak melarang nyadran karena, seperti yang telah disinggung di muka, tradisi warisan leluhur ini merupakan tanda syukur terhadap Tuhan gaya nelayan.

Bagi mereka, rasa syukur boleh diungkapkan dengan berbagai cara. Bahkan nyadran bisa menjadi syiar Islam seperti yang dilakukan oleh Walisongo dahulu. Menurut sudut pandang NU, jika nyadran dihukumi haram, maka sudah dari dulu dilarang oleh para penyebar Islam di Jawa.. Bagi penulis, terlepas dari sudut pandang keagamaan, sikap kompromis NU Gempolsewu berkaitan erat dengan alasan yang pada dasarnya bersifat ekonomis. Hampir semua nelayan
Desa Gempol Sewu ternyata adalah warga NU, sehingga wajar bila mereka mengambil sikap pro dengan tradisi rakyat itu.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah mengamati secara menyeluruh tentang tradisi nyadran di Desa Gempolsewu, penulis menarik kesimpulan bahwa pesta laut yang menjadi rutinitas tahunan warga masyarakat pesisir itu merupakan tradisi yang kompleks. Dari sudut pandang agama,
unsur animisme, Hindu, dan Islam menyatu didalamnya. Ini membuktikan bahwa ritual inti nyadran telah mengalami perkembangan yang evolutif sejak Jaman pra Hindu-Buddha hingga jaman Islam.
Selain berfungsi secara spiritual (agama), nyadran ternyata memiliki fungsi sosial, politik, dan ekonomi. Bukan hanya sebagai ritual keagamaan, melainkan juga sebagai pembangun harmoni dalam masyarakat, alat untuk kegiatan politik praktis, dan kesempatan
melakukan aktivitas dagang.

Kontroversi yang muncul adalah berakar dari masalah dasar kenyakinan keagamaaan (akidah). Pihak yang menentang (kalangan Muhammadiyah) mempunyai alasan mereka sendiri menolak tradisi nyadran. Mereka berhujah bahwa tradisi leluhur itu mengandung bid’ah dan syirik sehingga mengancam iman Islam. Pihak Ɣªňҩ memperkenankan (NU) justru melihat tradisi nyadran sebagai alat syiar Islam. Bagi penulis, pro dan kontra tentang masalah ini hanyalah perbedaan dalam sudut pandang dalam melihat kebudayaan lokal, selain tendensi ekonomi yang ada dibelakangnya.

B. Saran

Nyadran atau pesta laut merupakan tradisi pesisiran dan menjadi salah satu kebudayaan inti masyarakat nelayan pantai utara Jawa. Kontroversi yang mengemuka sebaiknya diselesaikan dengan tanpa
kekerasan. Perbedaan dalam berkeyakinan harus dicari inti masalahnya. Jika itu berkaitan dengan cara pandang salah satu agama, maka harus diselesaikan dengan cara keagamaan secara internal. Artinya, jika kalangan Islam berbeda pendapat tentang sebuah tradisi, maka tidak seharusnya tradisi itu dikorbankan.

Seperti yang telah diketahui, tradisi nyadran bukan hanya untuk kalangan Muslim, melainkan milik semua umat beragama yang terlibat dengannya, yaitu warga nelayan dengan latar belakang keagamaan yang berbeda-beda. Penulis mengharapkan agar perbedaan
pendapat yang timbul dari kedua belah pihak segera dimusyawarahkan secara baik-baik agar tidak terjadi kesenjangan sosial dalam bermasyarakat.

Penulis menyadari betul bahwa kontroversi seputar tradisi nyadran ϑȋ̝̊ Desa Gempolsewu seperti api dalam sekam. Sewaktu-waktu ia bisa menyala dan jelas akan menimbulkan keretakan dalam masyarakat. Oleh karena itu, kontroversi ini harus segera diselesaikan. Perangkat desa dan pemerintah daerah harus turun- tangan menjembatan antara pihak yang pro dan yang kontra secara imbang. Dengan cara itu, pemerintah akan mengetahui masalah yang dihadapi masyarakat menyangkut hubungan antara kebudayaan dan agama. lembaga-lembaga kepemerintahan yang mengandung unsur kebudayaan agar dapat memandang masalah ini sungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA

    – Ali, Mukti, Metode Memahami Agama Islam,
    Jakarta: Bulan Bintang, 1991
    – ‘’Proposal Pesta Laut 2009, Desa Gempolsewu,
    Kec. Rowosari, Kab. Kendal’’ (dokumen internal)

MENUJU SISTEM PERTANIAN ORGANIK

Oleh Kholidin (Siswa SMA Rifa’iyah Rowosari Kendal)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertanian di Indonesia berkembang sesuai dengan pengetahuan masyarakatnya. Pada awal mulanya, bercocok tanam dilakukan secara berpindah-pindah (swiden agriculture). Ladang dan hutan dibuka, lalu ditanami tanaman pokok seperti padi gogo, talas, ubi kayu, ubi jalar, dan sayuran. Tanaman tersebut belum diberi pupuk kandang atau pemeliharaan lainnya. Mulanya tanaman tumbuh subur, tetapi semakin lama, semakin merosot pula kesuburannya. Karena produksi menurun, petani berpindah ke tempat lain lalu membuka hutan kembali dan menanaminya. Ladang yang telah ditinggal begitu saja akan menjadi tandus, bahkan menjadi padang ilalang.

Sistem ladang berpindah tersebut kemudian berkembang menjadi sistem pertanian tradisional. Disebut pertanian tradisional karena pengelolaannya masih sederhana. Pengolahan tanah baru dilakukan saat musim hujan tiba. Sedangkan pada tanah tegalan, umumnya hanya ditanami satu jenis tanaman secara terus menerus dalam waktu yang sangat lama, sehingga menimbulkan masalah yang berupa berkurangnya kesuburan tanah, hasil panen merosot, serta hama dan penyakit berkembang dengan pesat dan tak terkendali. Pada tanah yang miring, kesuburannya menjadi cepat merosot dan terjadi banyak erosi karena tanahnya belum dibuat sistem terassering atau sengkedan.

Sebenarnya pertanian organik merupakan pertanian yang akrab dengan lingkungannya karena tidak memakai pestisida. Akan tetapi, produksinya tidak mampu menyaingi atau mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Untuk mengimbangi kebutuhan pangan tersebut, perlu diupayakan peningkatan produk yang kemudian berkembang sistem pertanian konvensional atau pertanian tradisional.

Pertanian organik mulai muncul di Indonsia pada sekitar tahun 1984an. Yayasan Bina Sarana Bakti mulai mengembangkannya di Bogor, tepatnya di Cisarua pada lahan seluas empat hektar. Setelah itu, sistem pertanian ini berkembang sangat pesat. Jenis tanaman yang ditanam secara organik pun tidak terbatas pada jenis tanaman sayuran saja, tetapi juga tanaman buah, walaupun tidak dalam skala seluas tanaman sayuran, tanaman padi maupun tanaman obat.

B. Permasalahan

Ada dua permasalahan utama yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu (1) bagaimana gambaran penggunaan pupuk organik dalam kehidupan masyarakat petani pada khususnya dan masyarakat lain
pada umumnya; (2) apa dampak yang ditimbulkan selama ini dan bagaiman solusinya? Dari pertanyaan tersebut, penulis tergelitik untuk mengamati lebih dalam tentang sejauh mana penggunaan pupuk kimia yang merupakan musuh terbesar bagi pupuk organik.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup makalah ini meliputi pengertian tentang beberapa pertanian yang telah dikenal masyarakat sejak zaman dahulu kala serta hal-hal yang berhubungan dengannya. Makalah ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan di Desa Bulak, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Penulis hanya membatasi pada analisis pertanian organik dan pertanian kimia.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah mendapatkan dua macam data sekaligus, yaitu data-data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif mengenai tema penelitian diatas. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan sebagai informasi untuk mengembangkan kualitas pangan di tingkat pusat (jangka panjang), dasar kebijakan pemerintah daerah (jangka menengah), dan masyarakat di Kecamatan Rowosari pada khususnya dan Kendal pada umumnya (jangka pendek). Selain itu, informasi
tersebut juga dapat digunakan sebagai acuan pengambilan kebijakan politis tingkat pusat dan sebagai landasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bertema kepedulian lingkungan di Indonesia sebagai
cara mengatasi kekurangan pangan di negeri tercinta ini.

E. Sasaran Penelitian

Sasaran penelitian ini adalah pihak-pihak yang terlibat dengan tema ataupun permasalahan yang diangkat dalam makalah, antara lain para petani yang bertindak aktif sebagai pelaku utama; instansi-instansi pemerintah terkait, seperti pemerintahan desa, kecamatan, dan kabupaten; dinas-dinas terkait, misalnya Dinas Pengairan dan Dinas Pertanian; dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pertanian.

F. Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis selama melakukan penelitian adalah wawancara untuk mendapatkan data-data yang bersifat kualitatif. Selain itu, penulis juga menggunakan sumber tertulis untuk mendapatkan informasi kuantitatif yang tidak mungkin diperoleh dari
lapangan. Ada dua alasan mengapa penulis menerapkan metode tersebut. Pertama, sekolah penulis tidak memiliki perangkat laboratorium yang memadai untuk membantu proses penelitian, sehingga penerapan metode kuantitatif yang didasarkan pada hasil pengamatan laboratorium tidak mungkin dilakukan. Untuk mengatasinya, penulis menggali data–data kuantitatif dari para petani dan instansi-instansi yang berhubungan dengan bidang pertanian, walaupun dalam skala prioritas yang minim. Kedua, metode kualitatif
bagi penulis lebih tepat sasaran, karena penulis dapat memahami latar belakang, proses, masalah faktual, dan keunggulan dampak penggunaan pupuk organik berdasarkan subjek yang terlibat, seperti petani, Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, dan lain-lain. Oleh karena itu, dalam makalah ini metode kuantitatif hanya dianggap sebagai pelengkap beberapa data yang tidak dapat digambarkan dengan metode kualitatif. Karena secara metodologis penelitian tentang pertanian organik sangat terkait dengan polutan pupuk kimia, maka penulis juga mengamati dan menghitung secara sederhana kuantitas pemakaian bahan-bahan pencemar yang dipakai dalam perbaikan mutu tanaman seperti, insektisida, herbisida, pestisida, dan pupuk anorganik
yang dipakai oleh petani dalam periode satu tahun.

Hasil pengamatan yang didapatkan penulis selanjutnya akan dianalisis berdasarkan informasi yang penulis kumpulkan dari literatur-literatur. Dengan demikian, meskipun tanpa didukung uji laboratorium, penulis
mampu melakukan analisis tentang seberapa besar limbah yang telah mencemari air sawah dan anak sungai di Desa Bulak serta dampak yang telah dan akan ditimbulkan dari bahan-bahan polutan tersebut.

G. Hipotesis Penelitian

Selama turun ke lapangan, hipotesis yang dijadikan acuan yaitu penggunaan pupuk organik menuai beberapa keuntungan dibandingkan dengan insektisida, herbisida, dan pupuk non-organik yang lazim digunakan petani di Desa Bulak yang tentu saja mengandung zat-zat
polutan (tidak ramah lingkungan), sehingga pemakaian jangka panjang pada bahan kimia tersebut akan dapat menyebabkan air sungai di sekitar lahan persawahan tercemar.

H. Literatur Review

Dalam penulisan ini, ada beberapa literatur yang penulis jadikan bahan analisis. Pertama, artikel yang berjudul “Water Pollution” karya John Hart. Dari tulisan tersebut, penulis mendapat informasi penting tentang pengertian pencemaran air, tipe-tipe bahan pencemar (polutan), sumber-sumber polutan, dan pengawasan negara terhadap kasus pencemaran. Kedua, buku Kimia Kelas 2, Semester 2, karya Hadi Prabawa. Dari buku ini, penulis mendapat tambahan beberapa teori tentang syarat–syarat yang dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui apakah air di suatu tempat telah tercemar, terutama oleh bahan-bahan dari kimia dari sawah. Literatur ini sangat bermanfaat sekali dalam memandu penelitian untuk membuktikan teori tersebut dalam praktik penelitian.

Selain kedua literatur ini, penulis mendapatkan beberapa informasi penting tentang pengertian berbagai macam pertanian serta penjelasannya dari buku Cara Mudah Membuat Kompos karya L Murbandono.

HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN

Bulak merupakan salah satu desa di Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Di sebelah selatan, desa ini berbatasan dengan Desa Bantaran, sebelah timur dengan Desa Kebonsari, sebelah utara dengan Desa Siwalan, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan
Desa Gempolsewu (Tawang). Menurut data sensus dari Kelurahan Bulak sendiri, sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hal itu terbukti desa ini dikelilingi oleh berpuluh puluh atau mungkin beratus-ratus hektar hamparan sawah yang
menghijau. Menurut salah satu warga desa yang sempat penulis wawancarai, 70-85% tanah itu ditanami padi, sedangkan sisanya berupa tanaman lain, seperti jagung, tembakau, dan bawang merah.

Dilihat dari alat-alat dan bahan yang digunakan, petani di Desa Bulak menggunakan peralatan modern dan bahan-bahan anorganik yang bersifat kimia. Hal itu terbukti dengan sudah digunakannya pestisida, herbisida, dan pupuk yang berbahan kimia. Alasan itu disebabkan luasnya lahan yang dimiliki seorang petani, sehingga akan memerlukan waktu yang lama bila di-watun . Oleh sebab itu, mereka memilih produk herbisida yang dapat membunuh gulma-gulma, seperti
rumput-rumputan, eceng gondok, dan sebagainya.

Kondisi seperti itu mengharuskan petani untuk berpindah dari sistem pertanian tradisional menuju sistem pertanian modern. Hal ini berdampak buruk bagi kelangsungan hidup organisme yang berada di sawah dan menurunkan kesuburan lahan yang digunakan sebagai prasarana bercocok tanam serta meningkatnya resiko pencemaran air di desa tersebut pada masa yangakan datang.

Untuk meneliti pemasalahan di atas, penulis melakukan serangkaian wawancara dengan beberapa warga Desa Bulak. Salah satu dari mereka adalah seorang petani yang menanam padi terbanyak beberapa tahun terakhir ini. Beliau sehari-hari dipanggil Pak Ri yang mulai
menggunakan bahan–bahan kimia pada pupuknya kurang lebih satu tahun lalu. Dulunya beliau sempat didatangi oleh salah satu petugas dari Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Petugas tersebut bermaksu menganjurkan kepada beliau untuk memakai herbisida sebagai pengganti untuk mencabuti rumput-rumput yang sebelumnya dengan tangan manusia (di-watun). Beliau juga mengatakan bahwa bila dibandingkan dengan penyemprotan memakai herbisida. Cara tradisional itu dapat dikatakan lebih boros karena membutuhkan biaya
lebih banyak.

A. Macam – Macam Jenis Pupuk dan Pengaruhnya Bagi Lingkungan

Herbisida merupakan bahan yang dibuat untuk memberantas gulma sebagai tanaman pengganggu seperti eceng gondok (monochoria vaginalis), semanggi (marsilea crenata), rumput teki (fimbristylis miliacea), dan gulma berdaun lebar lain yang biasanya hidup di air.

Menurut pengakuan Pak Ri, selain membunuh gulma sampai ke akar-akarnya, penggunaan herbisida juga bemanfaat untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah. Hal ini pernah dibuktikan oleh beliau bersama dengan salah satu petugas dari DPU Semarang tadi. Ketika itu, mereka berdua meneliti pekembangan tanah Ɣªňҩ ditumbuhi rumput. Waktu itu Pak Ri menyemprot rumput yang terdapat disela-sela tanaman padi dengan herbisida merek Ally PlusÒ
(berbahan aktif metal metsulfuron 0,7 %,garam, natrium 75%, dan etil klorimuron 0,7%).
Sebelumnya, tanah yang terdapat di bawah rumput tersebut sangat keras, bahkan kalau diinjak dengan kaki tidak menimbulkan bekas.
Setelah beberapa minggu, keduanya kembali mengamati perbedaan dengan sebelum disemprot dengan herbisida. Perbedaannya adalah saat sebelum herbisida disemprotkan tanahnya keras dan tumbuh rumput, tapi setelah disemprot memakai herbisida tanah menjadi subur dan rumput pun menguning lalu mati. Kemudian Pak Ri menegaskan bahwa herbisida tidak mengganggu pertumbuhan padi dan ekosistem, terutama biota di sawah. Hal itu disebabkan karena herbisida dibuat
hanya untuk memusnahkan gulma saja.

Penyemprotan dilakukan 2-3 kali, yaitu beberapa minggu setelah padi
ditanam sampai hampir panen dengan dosis pemakaian 320-640 g/ha. Untuk menghadapi serangan hama, petani itu menggunakan insektisida sebagai pengendali dan pemusnahnya. Insektisida merupakan bahan kimia yang dibuat khusus untuk memberantas insect (serangga) seperti wereng, kutu daun, belalang, dan ulat.

Insektisida menurut Pak Ri dibedakan menjadi dua, yaitu jenis yang hanya membasmi serangga tanpa mematikan hewan lain seperti ular dan ikan apabila tercemar oleh air tersebut dan jenis yang bisa mematikan semua jenis hewan yang ada dalam ekosistem tersebut,tidak terkecuali ikan dan ular.
Namun, menurut Bapak Ri, bahaya itu hanya terjadi pada petani yang belum mengetahui kesesuaian pestisida dengan hama yang dibasmi (Wawancara, 6 Maret 2009)

Selain mematikan, pestisida juga menimbulkan masalah lain yang lebih serius. Seperti ditulis John Hart, apabila hewan (konsumen tingkat 1) memakan tumbuhan (produsen) yang terkontaminasi zat kimia non-biodegrable, seperti chlordane (sejenis senyawa sintetis yang pekat dan beracun yang digunakan sebagai insektisida dan DDT (diclorodiphenyltrichloroethane), maka akan diserap ke jaringan otot atau organ binatang yang bersentuhan langsung dengan zat tersebut. Bila binatang lain (konsumen tingkat 2) memakan binatang (konsumen tingkat 1) yang terkontaminasi, maka zat tersebut akan berpindah melalui jenjang rantai makanan yang makin ke atas akan menyebabkan konsentrasi polutan yang terkontaminasi semakin meningkat. Sebagai contoh, di tubuh burung pemakan ikan ditemukan tingkat kontaminasi DDT yang mencapai 10 hingga 50 kali lebih tinggi dari pada yang terkandung dalam ikan itu
sendiri. Kemudian meningkat menjadi 600 kali lebih tinggi dari plankton yang dimakan oleh ikan dan 10 juta kali lebih tinggi dari pada air tempat ikan dan plankton tersebut hidup.

Dari penelitian itu dapat disimpulkan bahwa binatang yang berada pada puncak rantai makanan, yaitu manusia, adalah yang paling beresiko menderita kanker, masalah reproduksi, dan kematian akibat dari konsentrasi DDT yang menumpuk. (John Hart, 2008 )

Untuk menyuburkan tanah, beliau menggunakan pupuk. Ada berbagai macam pupuk yang pernah digunakan beliau serta berbagai keunggulan dan kelemahan dari masing-masing bahan yang terkandung didalamnya. Diantara pupuk yang beliau gunakan adalah pupuk kompos, pupuk kimia seperti urea, TSP, ZA, KCl, dan lain-lain. Selain itu, juga ada pupuk organik dalam bentuk cairan semprot. Pupuk organik yang beliau kepada penulis adalah merek Tiens Golden HarvestÒ yang komposisinya adalah sebagai berikut:

    1. Lactobasillus sp
    2. Azospirillum
    3. Azotobacter sp
    4. Mikroba pelarut phosphate
    5. Mikroba selulotik
    6. Pseudomonas
    7.unsur – unsur, P = 34,70 ppm; K =1700 ppm;N
    = 0,04 %;Fe =44,3 ppm;Mn =0,23 ppm;Zn =3,7
    ppm ( Hadi Prabawa dkk,1999).

Dua hari dari wawancara yang pertama, penulis pun mencoba mengamati sekaligus mewawancarai petani lain yang masih satu desa dengan Pak Ri, yaitu Pak Subi. Ketika penulis mengadakan pengamatan, beliau sedang berjalan menuju ke sawahnya sambil
menggendong sebuah tabung sebagai tanki larutan insektisida yang digunakan untuk menyemprot hama.

Menurut pengakuan yang penulis dapatkan, ternyata Pak Subi telah memakai pestisida dan pupuk yang berbahan kimia sejak dirinya menekuni pekerjaannya sebagai petani. Beliau menyebutkan beberapa merek herbisida, insektisida, dan pupuk yang sering beliau gunakan. Di antara merek insektisida yang sering dipakai adalah PolydorÒ (bahan aktif: Lamda sihalotrin 25 g/ℓ), FuradanÒ 3GR (bahan aktif: karbufuran 3 %), CrownÒ (bahan aktif: Chypermetrin 113 g/ℓ), DecisÒ (bahan aktif: Deltametrin 25 g/ℓ), ManuverÒ, DestokÒ, dan RegentÒ (ketiga merek terakhir ini dicampur dengan pupuk).

Penyemprotan dilakukan tergantung pada ada tidaknya hama pada
musim tertentu. Dalam musim yang normal (tidak banyak hujan atau sering panas terik yang sangat menyengat kulit) dan kuantitas hama normal (tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit hama), penyemprotan
dilakukan antara tiga hingga empat kali per-waktu tanam sampai masa hampir panen dengan dosis sekitar 17 kg/ha. Ini berarti dalam satu tahun, insektisida yang telah disumbang kurang lebih sebanyak 1,02 – 1,36 kuintal per-satu hektar sawah.

Beberapa merek pupuk yang sering digunakan Pak Subi adalah Pusri (berbahan dasar urea) dan Phonska (berbahan dasar fosfat, natrium, dan kalium). Selain merek-merek terkenal itu, beliau juga
menggunakan racikan antara fosfat dengan pupuk organik. Adapun penggunaan herbisida yang sering beliau gunakan (yang katanya juga dianjurkan oleh petugas dari dinas pertanian) yaitu Roundup, sejenis
herbisida yang kemampuan pemusnahnya terhadap gulma sangat lambat namun hemat bila dibandingkan dengan herbisida merek lain yang biasanya boros untuk membasmi kuantitas gulma yang sama. Selain RoundupÒ, beliau menggunakan herbisida lain khusus
untuk membunuh semanggi atau disebut Pak Subi sebagai “semprot semanggi” (Wawancara, 5 Maret 2009).

Di antara insektisida dan herbisida tersebut, salah satu diantaranya merupakan bahan yang bisa diurai kembali (biodegradable) dan cepat membusuk menjadi unsur-unsur yang tidak berbahaya. Sedangkan
sebagian yang lain berupa bahan yang tidak bisa diurai (non biodegradable) sehingga tetap mengandung unsur-unsur yang berbahaya dalam jangka waktu yang lama. Bila terkena gelontoran air hujan atau air irigasi, maka unsur-unsur berbahaya itu akan terserap ke dalam tanah (mencemari air tanah) dan akan menuju ke
sungai-sungai atau danau-danau (mencemari air permukaan tanah) (John Hart, 2008).

Dalam sistem pertanian tradisional, sekarang ini mulai dipergunakan pupuk buatan pabrik, pupuk sintesis, perangsang tumbuh, antibiotika, dan lain lain yang membuat produksi pangan bisa meningkat, tetapi di sisi lain, hadirnya produk–produk hasil pabrik tersebut dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Selain itu, pertanian konvensional banyak tergantung pada bahan kimia Ɣªňҩ harganya mahal, bahkan kadang-kadang langka dipasaran. Ketergantungan ini menyebabkan produksi merosot dan biaya produksi menjadi tinggi (tidak sesuai dengan harga beli).

Saat ini dunia pertanian tidak lepas dari penggunaan bahan kimia, baik untuk pemupukan, pemacu pertumbuhan, dan perekat, perata, maupun pengendali hama dan penyakit. Namun, apakah sudah memikirkan akibat dari pemakaian bahan-bahan tersebut? Bahan
kimia umumnya merupakan bahan beracun sehingga bila
digunakan dapat meracuni tanah, tanaman, udara, air, dan lingkungan hidup lainnya. Karena meracuni lingkungan hidup, maka berpengaruh kepada kesehatan manusia, misalnya gangguan pada paru-paru, jantung, ginjal, hati, darah, alat vital, serta timbul penyakit kanker, dan disfungsi seksual.

Selain beracun, harga pupuk dan pestisida juga semakin mahal. Terlebih apabila subsidi dari pemerintah dicabut. Keadaan ini menjadi dilema bagi para petani: bila tidak dipupuk dan disemprot dengan bahan kimia, produksi akan merosot. Sedangkan bila dipupuk dan disemprot, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya produksi. Walhasil, petani pun menjadi rugi.

Bagaimana pemecahannya? Jawabannya sangat sederhana, yaitu dengan sistem pertanian organik. Permasalahan yang dihadapi dalam pertanian konvensional dapat diselesaikan dengan mengembangkan
sistem pertanian organik. Konsep pertanian organik berawal dari pemikiran bahwa hutan alam yang terdiri dari banyak ribuan jenis tumbuhan bisa hidup subur tanpa campur tangan manusia. Kondisi hutan yang memberi makanan pada tanaman dan melindunginya dengan temperatur yang cocok untuk binatang besar
maupun kecil, serangga, cendawan, bakteri, dan makhluk hidup lainnya. Kotoran burung atau binatang lainnya serta mulsa dari daun-daun secara perlahan akan terurai menjadi makanan (pupuk) bagi tumbuhan. Jika hutan saja bisa subur dengan cara alami, maka
pasti lahan pertanian juga bisa demikian.. Dengan pemakaian bahan organik, ketergantungan terhadap bahan kimia dapat dikurangi, karena bahan organik umumnya bisa didapat dari lingkungan sekitar lahan
pertanian. Selain itu, dampak positifnya adalah lingkungan hidup di pertanian organik lebih bersih, subur, dan sehat (eco-friendly).

Prinsip pertanian organik pada dasarnya adalah berteman akrab dengan alam, tidak mencemari dan merusak lingkungan hidup. Alasan utama penggunaan bahan kimia adalah untuk menyuburkan tanah dan memberantas hama serta penyakit. Padahal, melalui sistem pertanian organik, dua masalah itu dapat diatasi. Untuk menyuburkan tanah, petani bisa memanfaatkan tanaman famili leguminosae, seperti
kacang-kacangan, selain pupuk kandang tentunya. Tanaman jenis ini mempunyai bintil-bintil akar Ɣªňҩ mampn menambat nitrogen yang dapat diserap oleh tanaman. Sementara sebagai pengganti pestisida, petani dapat menggunakan antara lain nimba, tembakau, brotowali, awar-awar, gadung, kelor, mindi, ketepeng kebo, mengkudu, mahoni, tuba teprosia, papaya, johar, buah lerak, sirsak, srikaya, dan jarak kepya. Pestisida alami ini dapat dengan mudah dibuat, tidak mencemari udara, tidak berbahaya, dan tidak meracuni konsumen
karena 100% bersifat bio-degradable. Terlebih lagi, tanaman-tanaman ini mudah diperoleh dan dibudidayakan (macam-macam pestisida organik dan cara pembuatannya dapat dilihat di tabel lampiran).

B. BERBAGAI KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PERTANIAN ORGANIK DAN KIMIA

Di bawah ini merupakan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan sistem pertanian organik:

    1. Kelebihan
    1.1 Tidak menggunakan pupuk atau pestisida berbahan kimia, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah, air, maupun udara, serta produknya tidak mengandung racun, sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat
    1.2. Tanaman organik mempunyai rasa yang lebih manis dibandingkan tanaman non organik
    1.3 Produk tanaman organik harganya lebih mahal.

    2 Kekurangan
    2.1 Kebutuhan tenaga yang diperlukan lebih banyak
    dibandingkan dengan pertanian modern, terutama untuk pengendalian hama dan penyakit. Umumnya, pengendalian hama dan penyakit dalam pertanian organik masih dilakukan secara manual. Penggunakan pestisida alami membutuhkan waktu lama karena bahan–bahan tersebut tidak banyak dijual dipasaran.
    2.2 Bentuk fisik tanaman organik kurang bagus, seperti berukuran kecil, dan daun berlubang-lubang.

Kebutuhan unsur hara setiap tanaman berbeda-beda. Kebutuhan tersebut dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu dalam jumlah banyak (makro), sedang (madya), dan sedikt (mikro). Yang termasuk unsur hara makro yaitu: Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K),
Karbon (C), Hydrogen (H), dan Oksigen (O). Sedangkan unsur kimia yang dibutuhkan dalam jumlah menengah yaitu; Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Belerang (S). Adapun unsur hara yang
dibutuhkan dalam jumlah mikro yaitu besi (Fe), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Mangaan (Mn), Boron (Br), Molibdenum (Mo), Klor (Ch), Kobalt (Co), dan Silisium (Si). Jumlah unsur hara dalam tanah umumnya sedikit, namun unsur tersebut dapat ditambahkan dengan pemberian pupuk organik.

Penyerapan unsur hara oleh tanaman dari derajat keasaman tanah (pH–power of hydrogen). Untuk mengetahui atau mengukur derajat pH tanah dapat digunakan alat yang disebut pH meter. Pupuk alami yang akrab dengan masyarakat petani adalah kompos. Kompos merupakan hasil fermentasi atau hasil dekomposisi bahan organik seperti tanaman, hewan, atau limbah organik. Secara ilmiah, kompos
dapat diartikan sebagai partikel tanah yang bermuatan negatif, sehingga dapat dikoagulasikan oleh kation dan partikel tanah untuk membentuk granula tanah.
Kompos memiliki peranan yang sangat penting bagi tanah, karena dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologinya (L. Murbandono, 1982).

Penambahan kompos ke dalam tanah dapat memperbaiki struktur, tekstur, dan lapisan tanah, sehingga akan memperbaiki keadaan aerasi, drainase, absorbsi panas, kemampuan daya serap tanah terhadap air, serta mengendalikan erosi tanah. Kompos juga dapat menggantikan unsur hara tanah yang hilang akibat terbawa oleh tanaman ketika dipanen atau terbawa aliran air permukaan (erosi).

Dari hasil perhitungan secara nasional diperoleh bahwa total produksi kompos nasional saat ini baru mencapai 10% dari potensi kebutuhan pertanian dalam negeri diperkirakan mencapai 11 juta ton per tahun. Namun di sisi lain, sejumlah produsen kompos mendapat kesulitan
untuk memasarkan produknya. Keadaan ini disebabkan karena sebagian petani di Indonesia masih mengandalkan pupuk non-organik (urea dan TSP) untuk menyuburkan tanah (L. Murbandono, 1982).

Keengganan petani menggunakan pupuk non-organik disebabkan karena merepotkan, tidak praktis, harus dalam jumlah besar, dan kadang- kadang menimbulkan bau busuk, serta pengaruh terhadap tanaman tidak terlalu tampak terlihat. Penerapan pupuk organik memang bersifat jangka panjang. Hal inilah yang merupakan kebalikan dari sifat pupuk anorganik yang penggunaannya praktis dan cepat menunjukkan hasil.

Selain itu, juga belum ada standarisasi mutu untuk produk kompos. Setelah diamati dan dicocokkan dengan literatur, ternyata terdapat beberapa perbedaan antara pupuk organik dan anorganik, yaitu:

    a. Sifat Kompos
    1. Mengandung unsur bahan makro dan mikro yang lengkap walaupun dalam jumlah yang hanya sedikit
    2. Dapat memperbaiki struktur tanah dengan cara
    sebagai berikut:
    2.1. Menggemburkan dan meningkatkan ketersediaan bahan organik di dalam tanah
    2.2. Meningkatkan daya serap tanah terhadp air dan zat hara
    2.3. Memperbaiki kehidupan organisme di dalam tanah dengan cara menyediakan bahan makanan bagi mikroorganisme tersebut
    2.4. Memperbesar daya ikat tanah berpasir, sehingga tidak mudah terpencar
    2.5. Memperbaiki drainase dan tata udara di dalam tanah
    2.6. Membantu pembentukan proses pelapukan bahan mineral
    2.7.Memperbaiki tanah dari kerusakan yang disebabkan oleh erosi
    2.8. Meningkatkan kapasitas tukar kation.
    3. Beberapa jenis tanaman yang menggunakan kompos lebih tahan terhadap serangan penyakit
    4. Menurunkan aktifitas organisme tanah yang merugikan.

    b. Sifat Pupuk Non-Organik
    1. Hanya mengandung satu atau beberapa unsur hara, tetapi dalam jumlah banyak
    2. Tidak dapat memperbaiki struktur tanah, tetapi penggunaannya dalam jangka waktu yang panjang dapat membuat tanah menjadi keras
    3. Sering membuat tanaman manja sehingga rentan terhadap serangan penyakit (L. Murbandono, 1982).

Pengaruh kompos terhadap sifat fisik tanah ternyata lebih baik dibandingkan dengan pengaruh pupuk kimia. Kompos dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Tanah lempung berat akan menjadi cepat jenuh karena air, sehingga akan menghalangi udara dan air yang masuk. Penambahan kompos pada tanah tersebut akan membantu melonggarkan partikel tanah yang padat. Yaitu dengan cara membuka pori-pori tanah yang merupakan saluran atau jalan udara dan air. Humus yang terdapat di dalam kompos dapat memecah tanah liat menjadi tanah yang lebih remah. Dengan penambahan kompos, struktur tanah liat menjadi lebih remah dan akan terbentuk lapisan tipis air yang sehingga mudah diserap akar.

Perbedaan antara tanah liat dan tanah pasir adalah ukuran partikelnya. Tanah liat terbentuk dari partikel– partikel yang sangat kecil dan saling terkait antara satu dengan yang lain. Sedangkan tanah berpasir terdiri dari partikel–partikel yang cukup besar, sehingga strukturnya berpencar dan tidak dapat mempertahankan kelembaban serta cenderung meloloskan diri terlalu cepat. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan pemberian kompos. Dengan kompos, partikel tanah akan disatukan dalam bentuk yang lebih besar, sehingga dapat menahan air lebih banyak dalam bentuk lapisan permukaan (Hadi Prabawa dkk,1992).

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Setelah mengamati keadaan air serta tanah di Desa Bulak, penulis membuat perhitungan sederhana. Dalam satu tahun, air sawah di desa ini selalu tercemar dengan disumbang oleh sekitar 1,02 – 1,36 kuintal insektisida per satu hektar sawah, 1,28 – 2,56 kg (2 kali penyemprotan) atau 1,92 – 3,84 kg herbisida per satu hektar sawah (3 kali penyemprotan) serta kurang lebih 20 kuintal pupuk organik . Jumlah tersebut mungkin tidak pernah terbayangkan oleh petani, sehingga mereka selalu menggunakannya tanpa ada rasa salah dan berdosa. Padahal di balik semua itu, kehidupan biota sawah semakin terancam. Dengan adanya pencemaran tersebut, ekosistem Ɣªňҩ terdapat di sawah juga ikut terkontaminasi. Jika dikonsums warga (air, tanaman, ataupun ikan yang hidup di tempat tersebut), maka akan berdampak buruk bagi kondisi kesehatan, terutama meningkatnya resiko penyakit kanker, masalah reproduksi, dan angka kematian yang tinggi. Bagaimanapun, pencemaran air di desa ini harus segera diatasi. Oleh karena itu, penulis menghimbau kepada para petani untuk ikut serta dalam upaya mengurangi frekuensi pencemaran air
di sawah mereka.

Bagi penulis, salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi pencemaran tanah pertanian oleh zat – zat kimia berbahaya adalah dengan kembali pemakaian pupuk ramah lingkungan
yaitu pupuk organik. Selain mengurangi resiko terkena kanker (disebabkan mengkonsumsi bahan makanan yang telah terkontaminasi bahan – bahan kimia pupuk organik), penggunaan pupuk alami juga dapat meningkatkan penghasilan. Menurut informasi yang penulis dapat dari seorang penjual dan pengecer beras di Pasar Bulak Kecamatan Rowosari, Kendal, harga beras organik dibandingkan dengan beras biasa jauh lebih tinggi. Jika harga beras biasa berkisar antara Rp.5000 – Rp.8000 per kilogram, maka harga beras organik bisa mencapai Rp.12.000 per kilogram. Oleh karena itu, alangkah baiknya dari detik ini para petani mulai berpikir realistis, apabila ingin menggunakan bahan-bahan kimia.

B. SARAN

Walaupun air merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, namun apabila sumber air tercemar, maka akan terjadi penurunan kualitas dan kuantitas air bersih. Kondisi ini mengharuskan kita untuk tidak mencemari sungai, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di pegunungan agar sebisa mungkin menggunakan air dengan sebaik-baiknya. Karena dampak Ɣªňҩ ditimbulkan juga berpengaruh pada wilayah yang ada dibawahnya (terutama daerah perkotaan).

Penulis juga menghimbau kepada Dinas Pertanian untuk lebih ketat dalam mengawasi pemasokan pupuk kepada petani, bukan malah menganjurkan mereka untuk mencoba memakai yang berbahan kimia. Apabila para petani tidak bisa langsung berpindah ke pupuk organik, minimal mereka mengurangi dosis pemakaian pupuk kimia. Walaupun mungkin pupuk organik lebih menghemat biaya, tetapi mereka juga harus berpikir kedepan tentang kelestarian ekosistem yang ada disekitarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus ikut membantu dalam hal pengadaan bahan baku kompos. Agar produksi kompos di negara kita dapat mengimbangi jumlah tanaman yang membutuhkannya maka bagi penulis, perlu adanya kebijakan pengurangan subsidi pupuk kimia dan mengalihkan subsidi itu ke pertanian organik. Pemerintah juga harus terus memberi penyuluhan tentang kelebihan penggunaan pupuk organik dan kerugian pemakaian pupuk kimia.

Penyebaran berbagai artikel dan selebaran mengenai pupuk organik juga merupakan upaya yang tepat yang dapat dilakukan pemerintah dalam rangka megurangi jumlah frekuensi pencemaran oleh pupuk kimia.

Akan tetapi, walaupun slogan-slogan untuk menggunakan penggunaan pupuk organik telah digembar-gemborkan, revolusi pertanian sulit terwujud apabila para petani yang berperan sebagai subyek dalam masalah tersebut tidak ikut serta atau acuh tak acuh
terhadap gerakan menuju sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Dengan kata lain, sistem bercocok tanam yang mengutamakan kesehatan dan tidak mengandung zat–zat patogenik hanya akan menjadi sebuah angan – angan serta lamunan kosong yang kita sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Oleh karena itu, apabila kita
termasuk salah seorang diantara sekian banyak orang yang mengingikan lingkungan yang bersih dari berbagai macam bahan kimia, tentunya pertanian organik merupakan langkah yang wajib dilakukan.

Menurut hemat penulis, cara praktis yang dapat ditempuh agar tujuan di atas dapat tercapai adalah dengan melakukan hal – hal dibawah ini :

    1. Memupuk dengan kompos, pupuk kandang, atau pupuk guano (pupuk yang dibuat dari kotoran kelelawar).
    2. Memupuk dengan pupuk hijau, seperti orok-orok (Crotalaria Juncea), tephrosia candida, tephrosiavogeli, maupun batang, akar, dan daun kacang – kacangan , turi serta gamal.
    3. Memupuk dengan limbah yang berasal dari kandang ternak dan pemotongan hewan.
    4. Mempertahankan dan melestarikan habitat tanaman dengan pola tanam polikultur

DAFTAR PUSTAKA

    Hart, John, “Water Pollution”, dalam Encarta Encyclopedia, Microsoft Corporation
    Prabawa, Hadi, dkk. 1995. Ilmu Kimia SMU untuk kelas 2 semester 2, Jakarta: Erlangga.
    Murbandono, L., 1982. Cara Mudah Membuat Kompos, Jakarta: Penebar Swadaya,1982

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.